rata-rata
betapa mudahnya menjadi "rata-rata". Peringkat menengah ini disesaki dengan para pemikir status quo dan para pekerja yang sudah dapat dapat dipredisikan. betapa langkahnya orang-orang yang hidup berbeda
Read more...disini kita akan berbagi pengalaman dan pengetahuan seputar Blog, Photoshop, Perbankan, Pajak,dll
betapa mudahnya menjadi "rata-rata". Peringkat menengah ini disesaki dengan para pemikir status quo dan para pekerja yang sudah dapat dapat dipredisikan. betapa langkahnya orang-orang yang hidup berbeda
Read more...
Terlahir dengan nama Agnes Gonxha yang berarti Kuncup Bunga dari keluarga harmonis dan bahagia Bojaxhiu, tanggal 26 Agustus 1910 di Skopje, Albania. Ayahnya adalah seorang yang memiliki semangat hidup besar dan aktif di bidang politik. Ibunya bijaksana dan berkepribadian kuat, sangat disiplin namun baik hati. Agnes lahir dalam keluarga penganut katolik yang saleh. Sang ibu sedapat mungkin membawa anak-anaknya untuk menghadiri misa pagi, mengajari anak-anaknya berdoa dan menolong orang-orang yang kehidupannya tidak sebaik mereka. Ternyata inilah "benih" yang tersemai dalam hati Agnes, untuk suatu saat dalam hidupnya dia memilih suatu keputusan yang radikal bagi Tuhan, yaitu menjadi sahabat bagi mereka yang termiskin dalam arti sesungguhnya.Usia 18 tahun Agnes mengambil keputusan bulat menjadi biarawati untuk melakukan pekerjaan misi di India, membaktikan diri bagi kaum miskin. Agnes masuk dalam ordo "Sister of Loreto". Tanggal 6 Januari 1929 tiba di India dan 4 bulan kemudia (23 Mei 1929) Agnes menjadi novis dan mengganti namanya menjadi TERESA (nama seorang biarawati Perancis dari ordo Karmelit yang menjalani masa hidupnya yang pendek di sebuah biara di Lisieux). 24 Mei 1931 suster Teresa mengucapkan kaulnya, kemudian ia ditugaskan ke Darjeeling, kota diperbukitan kaki Himalaya untuk mengajar di sekolah biara Loreto sambil membantu di rumah sakit. Itulah bekal yang ia dapatkan sebelum akhirnya 100% mengabdikan diri bagi mereka yang terabaikan. Selanjutnya ia dipindahkanke Entally, sebuah perkampungan kumuh disisi timur kota. Setelah mengucapkan kaul kekalnya pada tanggal 14 Mei 1937, ia diangkat menjadi kepala sekolah St. Mary's School.Setelah hampir 19 tahun tinggal di lingkungan biara sebagai novis, suster Teresa semakin merasa tidak sejahtera melihat suatu kontradiksi antara lingkungan di dalam dan di luar biara. Hatinya mulai terketuk, teringat apa yang menjadi kerinduannya yang paling dlam. Tahun 1943 Benggala dilanda bencana kelaparan, 5 juta orang meninggal dunia dan banyak yang mengungsi ke Calcutta. Jalan-jalan penuh dengan orang yang kelaparan dan sekarat. Tahun 1946 terjadi huru hara besar dan tindak kekerasan akibat bentrokan golongan Islam dan Hindu, lebih dari 4000 orang terbunuh dalam 5 hari." Musisi menggunakan waktu untuk membuat simfoni, Keluarga menggunakan waktu untuk membuat Harmoni "
Dr. Edwin L Cole
Suatu ketika, seorang kakek yang sudah sangat tua harus tinggal bersama dirumah anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan cucunya yang berusia
6 tahun. Tangan orangtua ini sudah begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannyapun sudah sangat buram, dan berjalannyapun sudah tertatih-tatih. Keluarga ini biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang kakek yang sudah pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan.
Sendok dan garpu kerap jatuh. Saat si orangtua ini meraih gelas, segera saja air yang ada didalamnya tumpah membasahi taplak meja makan.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. "Kita harus lakukan sesuatu, " ujar sang Istri. "Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk orang tua ini." Lalu, kedua suami-istri ini pun sepakat untuk membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan.
Karena sering memecahkan piring, anak dan menantunya juga sepakat untuk memberikan mangkuk kayu untuk si Kakek tua ini. Saat keluarga itu sibuk dengan makan malam, mereka sering mendengar isak tangis sang kakek dari sudut ruangan. Terlihat juga airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput mata si kakek tua itu. Akan tetapi, hal ini sama sekali tidak menyentuh hati anak dan manantunya, malah selalu saja, kata yang keluar dari anak dan menantunya ini adalah omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.
Cucu si kakek tua yang baru berusia 6 tahun ini sering dibuat tertegun memandangi semua perlakuan orangtuanya. Sampai pada suatu malam, ayah sianak ini tanpa sengaja melihat anaknya yang sedang bermain dengan peralatan kayu.
Dengan lembut ditanyalah anak itu. " Sayang Kamu sedang membuat apa …?".
Lalu dengan lugunya anak ini menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu untuk makan ayah dan ibu nanti kelak kalo aku sudah besar.
Meja itu nanti akan kuletakkan di sudut sana, dekat tempat kakek biasa makan." Sambil tersenyum anak itu segera melanjutkan permainannya. Sungguh jawaban anak ini telah membuat kedua orangtuanya sangat terpukul. Suara mereka tiba-tiba berubah menjadi parau; Mulut mereka terkunci rapat; dan tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, perlahan-lahan airmatapun mulai menitik membasahi kedua pipi suami istri ini. Walau tak ada kata-kata yang terucap, tapi mereka kini benar-benar telah menyadari, ada sesuatu yang salah yang telah mereka lakukan pada orang tua mereka. Maka pada malam itu juga, mereka menuntun tangan orangtunya untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama dengan bahagia.
NB : waktu baca artikel ini, saya diingetin lagi sama suatu ayat yang sangat terkenal
Keluaran 20:12
"Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu."
Gua dapat dari Ray Stephan Muljana
" Pemenang bukanlah Orang yang
tidak pernah GAGAL, melainkan Orang
yang tidak pernah berhenti
MENCOBA"
- Edwin Louis Cole -
© Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008
Back to TOP